Tech News

Game Reviews

New Design

Recent Post

Green Walker Sudirman (GWS) 2009

Green Walker Sudirman (GWS) 2009

      Mahaguru-Sangat menyenangkan saat kita bisa menikmati perasaan damai ketika berada di alam bebas. Ya, perasaan damai. Disaat kita disibukan dengan pekerjaan "routine" masing-masing, akhirnya bisa berkumpul kembali bersama teman lama di kegiatan perkemahan yang diadakan pada tahun 2009 itu. Saya rasa kalian patut mencobanya. 
         Mereka adalah sebuah kelompok kecil bernama Green Walker Sudirman (GWS) yang anggotanya terdiri dari alumni Madrasah Aliyah Negeri Sintang, namun kelompok yang mengusung atribut pecinta alam ini juga tidak menutup diri bila ada yang ingin bergabung, bila anggota semakin banyak, pasti akan banyak ide-ide brilian yang muncul dan pastinya lebih menyenangkan karena kita akan lebih banyak teman-teman baru.
        Mengenai ekspedisi kecil yang mereka lakukan pada tahun 2009 lalu, banyak sekali pengalaman dan kesan yang dirasakan. Mulai dari perjalanan yang cukup melelahkan, membuat api unggun, bermain gitar dan bernyanyi bersama, mencari tanaman anggrek  dan kantong semar dan masih banyak lagi. Kegiatan tersebut berlangsung selama 4 hari, mulai dari tanggal 14 Agustus hingga 17 Agustus. Memang, kegiatan tersebut memang diadakan untuk memperingati HUT RI ke 64 yang mana puncak acara pada tanggal 17 Agustus dilakukan pengibaran bendera merah putih dan pemasangan umbul-umbul di beberapa titik pendakian. 
          Pada saat tiba dipuncak, mereka kehujanan dan kesulitan untuk memasang tenda, belum lagi tempat untuk mendirikan tenda agak miring dan ditutupi semak belukar. Tapi siapa kira, mereka bertemu dengan penjaga sarang burung walet dan dipersilahkan untuk berteduh. Di iringi perasaan lega, mereka pun meletakan barang bawaan, memasak air panas, lalu membuat secangkir minuman hangat, menenggaknya demikian santai (air, bukan gelasnya) dan disanalah perilaku mereka seolah pemilik rumah dimulai. Terimakasih

        Note: Green Walker Sudirman (GWS) akan mengadakan kegiatan kembali pada akhir bulan Agustus 2009 ini. Yuk ikutan....
Dilema Antara Kebutuhan Hidup dan Larangan Pemerintah Tentang Perusakan Lingkungan

Dilema Antara Kebutuhan Hidup dan Larangan Pemerintah Tentang Perusakan Lingkungan


Mahaguru-Masyarakat di hulu sungai melawi seperti kecamatan Ambalau di kabupaten Sintang dihadapkan pada keadaan yang dilematis. Mereka hingga kini masih kesulitan dalam mengembangkan daerah mereka. Bagaimana tidak, mereka hingga kini belum memperoleh akses jalan yang layak, pelayanan pendidikan dan kesehatan yang masih minim. Belum lagi masalah mata pencarian yang masih berkutat pada penebangan kayu, tambang emas dan karet. Seharusnya ini menjadi perhatian pemerintah dan menjadi prioritas utama dalam pembangunan mengingat mereka mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pelayanan publik. 
         Hingga kini, masalah akses jalan masih menjadi "sumber masalah" dari segala masalah di daerah hulu melawi ini. Akses jalan yang bisa di tempuh hanya melalui sungai, terutama dari Serawai hingga kampung di hulu seperti Kepala Jungai. Daerah ini demikian kaya, namun bagaimana cara penduduk setempat mengelola dan memanfaatkannya bila untuk memasarkannya saja membutuhkan waktu yang lama dan berbahaya. Padahal sektor pertanian dan perkebunan di daerah ini bisa dijadikan mata pencarian yang menjanjikan. Namun karena ketidakmampuan dalam pemasaran, banyak warga yang menyerahkan tanahnya pada perusahaan perkebunan yang masuk dengan iming-iming yang menggiurkan. 
         Selain itu, beberapa warga yang tidak mengelola tanahnya memilih untuk menebang dan menjual kayu untuk tetap bisa memenuhi kebutuhan hidup dan menyekolahkan anaknya. Tapi di sisi lain, ini juga bertentangan dengan pemerintah yang telah melarang adanya penebangan hutan. Tidak jarang mereka harus berhadapan dengan pihak yang berwajib karena tertangkap tangan membawa dan menjual kayu secara ilegal. Penambangan emas pun demikian, banyak razia dilakukan oleh pihak yang berwajib terhadap penambang emas liar. Hingga kini mereka masih bingung sekaligus menyimpan kekecewaan pada pemerintah. Pemerintah seakan memangkas mata pencarian mereka, namun tidak memberikan solusi dan memenuhi kebutuhan masyarakat dengan layak. Dalam hati kecil mereka mungkin berkata "Wahai pemerintah, kami hanya ingin hidup aman dan layak, seperti anda." 
DPRD Sintang Merayakan HUT RI ke 66 saat HUT RI ke 68

DPRD Sintang Merayakan HUT RI ke 66 saat HUT RI ke 68


Mahaguru- Ini dia hal yang patut kita pertanyakan, kenapa DPRD Sintang merayakan Hari Kemerdekaan ke 66 saat seluruh rakyat Indonesia merayakan HUT RI ke 68? Wah...mungkin wakil rakyat kota Sintang begitu sibuk ya membenahi kota kita hingga mengabaikan hal sepele namun memberikan pandangan negatif pada masyarakat yang melihatnya. Tentu banyak masyarakat yang berpikiran kalau DPRD Sintang "kurang bersemangat" dalam merayakan HUT RI ke 68 itu. Saat anak-anak TK dan Sekolah Dasar mengibarkan bendera kecilnya dengan ceria, saat para PASKIBRA mengibarkan bendera dengan bangga dan masyarakat memberi hormat dengan khidmat, tapi para teladan kita, para wakil rakyat justru menampilkan "lawakan" garing pada masyarakat. Kita menanamkan rasa cinta tanah air tanpa teladan atau contoh pada anak-anak adalah hal yang sia-sia. Memang kemeriahan visual bukan menjadi ukuran rasa patriotisme seseorang, tapi kemeriahan HUT RI ini adalah milik kita semua, apalagi melihat kedudukan mereka sebagai wakil rakyat di DPRD yang notabene di nobatkan sebagai orang-orang pilihan dan paling kompeten untuk menyampaikan aspirasi, sudah sepatutnyalah menjadi contoh yang baik. Saran saya untuk anggota DPRD Sintang, lakukan dan nikmatilah hal-hal kecil, karena orang kecil itu mampu melihat hal-hal kecil yang cenderung terabaikan oleh orang besar seperti anda, dan relatif tidak mampu melihat kebesaran hati dan proyek yang mungkin telah anda lakukan.
Jalan di Sintang Kota, Parah

Jalan di Sintang Kota, Parah

       
         Beginilah di lintas melawi kabupaten Sintang, banyak lubang dimana-mana. Padahal ini jalan yang berada di tengah-tengah kota. mau dibawa kemana kota ini? Jadi pembangunan di aspek mana selama ini? Dilihat dari sudut pandang orang awam seperti saya ini, kota ini cukup mampu untuk membangun jalan yang lebar dan "mulus". kurang bahan ? tuh Batu Buil ada kalau terkendala batunya. Tuh para pengangguran (seperti saya) ada, kalau tenaga kerjanya kurang. Tapi kenapa malah jadi begini? Lubang dimana-mana, mengganggu mata dan kenyamanan pengendara, belum lagi debu yang "speechless". Ahaa....saya punya ide, bagaimana kalau kita tarik upeti dari perusahaan-perusahaan yang nebeng di Sintang, kan banyak jumlahnya. Bagaimana kalau mereka tidak mau? ya harus mau. Bukankah ini semua untuk kita orang Sintang, nggak masalahkan. Kalau jalannya bagus, pasti banyak orang bilang...."mantap ya Sintang ni, mulus !". Tapi, lagi-lagi kenapa masih seperti ini??? Apakah benar bahwa proyek aspirasi mendapat potongan dari DPRD sebesar 20%? padahal menurut seorang Advokat, DPRD tidak memiliki kewenangan untuk melakukan pemotongan sebesar 20% terhadap dana proyek aspirasi. di sini saya nggak mau berburuk sangka, saya akan berusaha untuk selalu berpikir positif pada Pemda Sintang. Intinya, belum terlambat untuk membenahi kota tercinta kita ini.
        Ayo semangat !! Kita bangun Sintang ini bersama, kami sebagai rakyat akan bertugas menjaga dan merawat apa yang telah di realisasikan oleh pemerintah serta memberikan saran dan kritik yang baik bila wakil rakyat "bingung" menentukan kebijakan. Terimakasih.
Breaking News
Loading...
Quick Message
Press Esc to close
Copyright © 2013 Yudi Sutopo All Right Reserved