ANTARA FOTOGRAFI, SEX DAN SENI

Assalamualaikum wr. wb !
     Beberapa hari lalu, saya di kejutkan dengan banyaknya foto-foto perempuan yang cukup terbuka di Facebook. Setelah saya cek ternyata teman-teman saya mengupload beberapa hasil jepretan mereka. Tapi yang saya sesalkan pada mereka adalah menjadikan keterbukaan perempuan sebagai objek foto. Memang, untuk menyalahkan tindakan tersebut sangat sulit mengingat seni itu sendiri sifatnya subjektif. Setiap orang itu mempunyai hak, mempunyai kemampuan, mempunyai tingkat objektifitas yang berbeda-beda. Dosen saya pernah mengatakan "Seni itu sepertinya ambigu, satu sisi memberi ketenangan lewat estetikanya, kadang memberi rasa takut lewat provokasinya yang realistis...". Cukup lugas ya, saya rasa kita bisa memahami kalimat tersebut. Lalu, yang kita bahas selanjutnya adalah mengenai tren fotografi di Sintang. 
     "Memfoto itu adalah bagian dari kita dalam melihat keindahan, kegalauan, realitas yang tak terucap, dibutuhkan kepekaan dalam menangkap "moment". Itulah sedikit pengertian tentang seni fotografi. Dari kalimat tersebut kita dapat mengambil kesimpulan bahwa seni fotografi itu menitik beratkan pada kemampuan fotografer dalam menangkap titik-titik yang oleh si pemotret adalah seni, bukan pada objek atau apa yang kita foto. Saya yakin, setiap hal disekitar kita adalah sebuah seni. Tapi apa yang terjadi di masyarakat kini adalah tingginya kecenderungan untuk menjadikan keterbukaan perempuan sebagai objek jepretan. Memangnya kenapa? tidak ada jawaban yang mutlak benar, tapi coba tanyakan itu pada diri kita sendiri.

     Mengingat pandangan setiap orang akan seni itu berbeda-beda, maka alangkah baiknya bila para fotografer dapat merasakan kecenderungan yang dimilikinya sehingga hakikat seni itu bisa dinikmati baik oleh si fotogfrafer maupun orang lain. Bukan sekedar trend yang sedang beredar di masyarakat atau sekedar "cuci mata", masih banyak keindahan yang dapat kita gali selain nudisme. Saya berikan contoh di bawah ini
Sumber : abualbanie.wordpress.com

       Bukankah masih banyak objek yang bisa kita tangkap? Wanita memang di penuhi dengan keindahan, tapi seperti yang saya ungkapkan di atas bahwa setiap kita mempunyai perspektif seni yang berbeda. Pertanyaannya...sudah mampukah masyarakat kita menerima dan menterjemahkan seni secara holistik? Secara utuh? Tentu kadar kemampuan masyarakat dalam menterjemahkan seni itu sendiri sangat penting. Masyarakat bisa saja menganggap itu pornografi, hal yang tabu untuk di ekspos, padahal menurut sebagian orang adalah seni. Nah, untuk itu, mari kita cek lagi kecenderungan kita dalam fotografi dan mulailah berkarya dengan tidak menanggalkan derajat kita sebagai manusia yang berbudaya dan beragama.
Sumber : nira15.blogspot.com
      Demikian artikel ini saya tulis bukan untuk menyalahkan, memvonis bahwa menjadikan wanita sebagai objek foto adalah sebuah kesalahan, tapi lebih kepada kejujuran hati kita dalam mengimplementasikan kecenderungan minat sekaligus membuka tren baru dalam seni fotografi. Maaf bila ada kata-kata yang tidak menyenangkan anda. Terimakasih. 

0 komentar:

Posting Komentar

Breaking News
Loading...
Quick Message
Press Esc to close
Copyright © 2013 Yudi Sutopo All Right Reserved