Tech News

Game Reviews

New Design

Recent Post

Mengenal Upacara Adat Perkawinan Suku Dayak Uud Danum

Mengenal Upacara Adat Perkawinan Suku Dayak Uud Danum

     Kali ini saya akan bercerita tentang upacara adat perkawinan suku Dayak Uud Danum yang ada di  Desa Buntut Pimpin, Kec. Ambalau. Kab. Sintang. Pada upacara pernikahan adat di desa tersebut, ada beberapa ritual yang di lakukan, berikut penjabarannya.
      Gambar dibawah ini sebenarnya adalah percakapan antara perwakilan kedua belah pihak yang menikah. Kebetulan mempelai wanita adalah orang dari desa lain, jadi ada semacam perizinan atau percakapan yang menggunakan bahasa daerah setempat yang sangat halus, atau mungkin bahasa dayak kuno leluhur mereka mengingat sekarang sudah banyak pencampuran bahasa (pada saat prosesi saya menanyakan artinya percakapan tersebut pada teman saya dan dia juga tidak tahu artinya). Pada ritual ini, sebelum percakapan itu selesai, pihak atau orang-orang dari desa mempelai wanita tidak boleh menginjak tanah yang ada di pihak mempelai pria. Setelah percakapan selesai, ada pertunjukan seni bela diri yang dipertunjukan oleh pesilat dari perwakilan kedua mempelai. Begitu silat selesai, maka satu demi satu pihak mempelai wanita melewati semacam gerbang yang terbuat dari janur/daun pohon kelapa yang menandakan pihak memepelai wanita sudah diperbolehkan masuk ke wilayah mempelai pria.

Tetua adat melakukan percakapan
Gambar diatas menunjukan seorang tetua adat sedang memegang ayam dan melakukan percakapan dengan pihak mempelai wanita. Tak di sangka-sangka ayam yang di pegang oleh tetua adat ternyata diberikan kepada saya. Setelah itu sebagian warga ada yang menyembelih babi untuk konsumsi.

 
      Ritual selanjutnya adalah prosesi dimana perwakilan pihak mempelai wanita diharuskan meminum "Boram". Boram merupakan minuman fermentasi yang kebanyakan dibuat sendiri oleh penduduk setempat. Boram tersebut disediakan di atas mangkok dengan ukuran mangkok yang berbeda-beda dan diletakan disetiap anak tangga rumah mempelai pria. Selain itu, di bawah mangkok yang berisi Boram tersebut diletakkan uang dimana ukuran mangkok yang paling besar memiliki nilai uang yang besar pula. Disini perwakilan dari pihak mempelai wanita akan bekerja sama untuk menghabiskan minuman tersebut. Setelah boram tersebut habis diminum, maka pihak mempelai wanita boleh memasuki rumah mempelai pria.
      Setelah ritual tersebut, mungkin ada ritual selanjutnya yang dilakukan didalam rumah mempelai pria. Namun karena saya tidak ikut masuk maka saya tidak bisa memaparkan apa yang terjadi didalam sana. Nah, setelah itu kedua mempelai keluar rumah bersamaan dengan membawa beberapa tumbuhan yang telah di susun sedemikian rupa dan meletakkan susuna tumbuhan tersebut di pekarangan.

Kedua mempelai memegang susunan tanaman bersama.
      Prosesi selanjutnya adalah turunnya kedua mempelai untuk mandi bersama membersihkan diri. Bukan sembarang mandi, mereka masuk kedalam air dan berdiri bersama dan kemudian di jala yang membuat mereka berada di dalam jala bersama. Dari sumber yang saya peroleh, apabila ada ikan ataupun hewan lain yang terjala, maka seumur hidup ikan tersebut menjadi pantangan, tidk boleh dimakan oleh kedua mempelai.
kedua mempelai akan "di jala"

Dibawah ini adalah penduduk warga yang sedang menyaksikan upacara pernikahan. Mereka secara berbondong-bondong datang untuk menyaksikan sekaligus membantu kelancaran proses pernikahan.
Warga menyaksikan prosesi upacara adat pernikahan
Demikian artikel ini bertujuan untuk mengenalkan kekayaan budaya suku dayak Uud Danum yang ada di kabupaten Sintang. Semoga tulisan ini memberikan manfaat bagi kita dan menyadarkan kita akan kekayaan budaya yang kita miliki dengan menjaga dan melestarikannya hingga anak cucu kita tidak hanya mendengar ceritanya saja. Maaf bila ada kata-kata atau penjelasan yang keliru, kemudian tinggalkan pesan agar saya bisa memperbaikinya. Terimakasih.

Sumber : Suratman (Tokoh masyarakat di Desa Buntut Pimpin)













ANTARA FOTOGRAFI, SEX DAN SENI

ANTARA FOTOGRAFI, SEX DAN SENI

Assalamualaikum wr. wb !
     Beberapa hari lalu, saya di kejutkan dengan banyaknya foto-foto perempuan yang cukup terbuka di Facebook. Setelah saya cek ternyata teman-teman saya mengupload beberapa hasil jepretan mereka. Tapi yang saya sesalkan pada mereka adalah menjadikan keterbukaan perempuan sebagai objek foto. Memang, untuk menyalahkan tindakan tersebut sangat sulit mengingat seni itu sendiri sifatnya subjektif. Setiap orang itu mempunyai hak, mempunyai kemampuan, mempunyai tingkat objektifitas yang berbeda-beda. Dosen saya pernah mengatakan "Seni itu sepertinya ambigu, satu sisi memberi ketenangan lewat estetikanya, kadang memberi rasa takut lewat provokasinya yang realistis...". Cukup lugas ya, saya rasa kita bisa memahami kalimat tersebut. Lalu, yang kita bahas selanjutnya adalah mengenai tren fotografi di Sintang. 
     "Memfoto itu adalah bagian dari kita dalam melihat keindahan, kegalauan, realitas yang tak terucap, dibutuhkan kepekaan dalam menangkap "moment". Itulah sedikit pengertian tentang seni fotografi. Dari kalimat tersebut kita dapat mengambil kesimpulan bahwa seni fotografi itu menitik beratkan pada kemampuan fotografer dalam menangkap titik-titik yang oleh si pemotret adalah seni, bukan pada objek atau apa yang kita foto. Saya yakin, setiap hal disekitar kita adalah sebuah seni. Tapi apa yang terjadi di masyarakat kini adalah tingginya kecenderungan untuk menjadikan keterbukaan perempuan sebagai objek jepretan. Memangnya kenapa? tidak ada jawaban yang mutlak benar, tapi coba tanyakan itu pada diri kita sendiri.

     Mengingat pandangan setiap orang akan seni itu berbeda-beda, maka alangkah baiknya bila para fotografer dapat merasakan kecenderungan yang dimilikinya sehingga hakikat seni itu bisa dinikmati baik oleh si fotogfrafer maupun orang lain. Bukan sekedar trend yang sedang beredar di masyarakat atau sekedar "cuci mata", masih banyak keindahan yang dapat kita gali selain nudisme. Saya berikan contoh di bawah ini
Sumber : abualbanie.wordpress.com

       Bukankah masih banyak objek yang bisa kita tangkap? Wanita memang di penuhi dengan keindahan, tapi seperti yang saya ungkapkan di atas bahwa setiap kita mempunyai perspektif seni yang berbeda. Pertanyaannya...sudah mampukah masyarakat kita menerima dan menterjemahkan seni secara holistik? Secara utuh? Tentu kadar kemampuan masyarakat dalam menterjemahkan seni itu sendiri sangat penting. Masyarakat bisa saja menganggap itu pornografi, hal yang tabu untuk di ekspos, padahal menurut sebagian orang adalah seni. Nah, untuk itu, mari kita cek lagi kecenderungan kita dalam fotografi dan mulailah berkarya dengan tidak menanggalkan derajat kita sebagai manusia yang berbudaya dan beragama.
Sumber : nira15.blogspot.com
      Demikian artikel ini saya tulis bukan untuk menyalahkan, memvonis bahwa menjadikan wanita sebagai objek foto adalah sebuah kesalahan, tapi lebih kepada kejujuran hati kita dalam mengimplementasikan kecenderungan minat sekaligus membuka tren baru dalam seni fotografi. Maaf bila ada kata-kata yang tidak menyenangkan anda. Terimakasih. 
Hewan Terancam Punah di Daerah Sintang

Hewan Terancam Punah di Daerah Sintang

Assalamualaikum.
Kita begitu beruntung, begitu banyak kelebihan yang dimiliki daerah kita, Sintang. Kekayaan alam yang begitu indah juga flora dan fauna yang khas. Namun terkadang kita lupa untuk menjaga, memelihara dan melindungi masa depan kekayaan kita tersebut. Beberapa satwa yang kini mulai mengalami penurunan populasi seperti di bawah ini. 

Burung di bawah ini adalah burung Enggang Gading atau Rangkong, atau "Tingang" dalam bahasa daerah setempat. Kebetulan di tempat saya bertugas ada seorang warga yang berburu dan berhasil menangkap hidup-hidup. Ukurannya kurang lebih sebesar ayam seberat 1 kg. Semejak saya bertugas didaerah itu, banyak sekali burung Enggang yang di tangkap karena harga paruhnya cukup menggiurkan. Namun spesies Enggang yang berharga bukan jenis dibawah ini.

Enggang atau "Tingang" yang masih kecil
 Nah, dibawah ini adalah Enggang atau Tingang yang sudah dewasa. Setelah saya lihat lebih dekat, ternyata ukurannya sangat besar, rentangan sayapnya bisa mencapai 1,5 meter. Bagi warga setempat, keberadaan burung ini relatif aman karena burung ini tidak begitu bernilai dibandingkan Enggang yang biasa mereka sebut "Tajak". Namun burung ini kadang diburu hanya untuk di ambil dagingnya.

Gambar dibawah ini adalah Hylobates agilis atau Lempiau atau "Kerabot" dalam bahasa daerah setempat yaitu Suku Dayak Uud Danum. Hewan ini juga sudah mulai langka, karena hewan ini juga cukup bernilai, mengingat banyaknya orang yang berkeinginan untuk menjadikan hewan ini sebagai piaraan.

Demikian hewan di daerah kita yang perlu kita lindungi demi kelangsungan ekosistem sekaligus peninggalan bagi anak cucu kita nanti.
Breaking News
Loading...
Quick Message
Press Esc to close
Copyright © 2013 Yudi Sutopo All Right Reserved